Selasa, 30 November 2010

WASPADAI SKIZOFRENIA !!!



Detail Berita
Alami skizofrenia (Foto: Google)
PSIKOSIS merupakan gangguan tilikan pribadi yang membuat seseorang tidak mampu menilai atau menerima realitas kehidupan. Semuanya berdasarkan fantasinya. Sehingga kemudian muncul realitas baru versi penderita psikosis. Gangguan psikosis sangat beragam. Yang akan dibahas kali ini adalah skizofrenia.

Menurut Meriyati Budiman Mpsi, psikolog klinis dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, skizofrenia atau gangguan psikosis merupakan penyakit gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh ketidakseimbangan nuerotransmitter atau fungsi saraf dalam otak.

“Psikosis adalah terminologi umum yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan gejala (psikotik). Sedangkan skizofrenia adalah salah satu jenis gangguan yang memperlihatkan gejala psikosis. Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa yang paling berat,” jelasnya.

Ketidakseimbangan Zat Kimia

Skizofrenia tergolong gangguan otak yang bersifat kronis dan dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Kalau otak sudah terganggu, orang tidak bisa lagi mengendalikan diri.

“Padahal selain sebagai pusat berpikir, otak juga berperan vital dalam mengendalikan perilaku dan emosi yang merupakan bagian integral dari fungsi mental seseorang. Itulah sebabnya ODS (Orang Dengan Skizofrenia) sering dianggap sedang terganggu mentalnya,” katanya.

Penyebab gangguan ini adalah ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmitter) dalam otak. Ketidakseimbangan ini yang kemudian membuat saraf otak “salah” menyampaikan pesan.

“Apapun yang kita pikirkan diproses di otak. Otak terbentuk dari neuron-neuron atau sel-sel saraf. Kalau jalannya saraf tidak seimmbang, akan terjadi kekacauan,” imbuhnya.

Neurotransmitter atau zat kimia pada otak menjadi perantara bagi sel-sel saraf untuk menyempaikan pesan ke seluruh tubuh. Pada keadaan normal, neurotransmitter akan menyampaikan pesan yang sama dari satu saraf ke saraf lain.

“Namun pada penderita skizofrenia salah menangkap atau salah mengerti. Tak jarang apa yang dimengerti bertolak belakang dengan realitas atau kenyataan. Akibatnya, para ODS memiliki keyakinan yang tidak realistis, sering berhalusinasi, dan memiliki rasa cemas yang berlebihan serta sering bingung dan sulit berkonsentrasi. Mereka juga memiliki keyakinan yang sangat kuat atas sesuatu seperti selalu merasa ada orang yang berniat jahat pada mereka,” sambung psikolog yang biasa disapa Meri ini.

Penyebab dan Gejala

Penyebab penyakit ini masih diteliti hingga sekarang karena masih belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan ketidakseimbangan zat kimia dalam otak itu. “Penyebab terjadinya ketidakseimbangan tersebut belum diketahui secara pasti. Pemicu terjadinya skizofrenia juga bisa bervariasi, bahkan ada yang tidak diketahui pemicunya,” kata Meri.

Sejauh ini diterima bahwa beberapa kombinasi faktor dapat mencetuskan skizofrenia. Faktor genetik atau keturunan, misalnya. Bila salah satu anggota keluarga pernah mengalami skizofrenia, bukan tidak mungkin penyakit ini juga akan muncul pada anggota keluarga yang lain. Faktor lainnya seperti kondisi pra-kelahiran, lingkungan sosial, penggunaan obat-obatan terlarang, dan konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat.

Munculnya skizofrenia bisa diketahui dari gejala-gejalanya, sekalipun tak jarang muncul tiba-tiba alias mendadak. Adapun gejala-gejala skozofrenia dibagi ke dalam beberapa golongan. Gejala positif, gejala negatif, gejala afektif. Gejala kognitif, gan gejala agresif.
Gejala positif dan negatif merupakan gejala yang menunjukkan perilaku atau pola berpikir. Pada gejala positif, penderita akan memiliki pikiran yang seharusnya tidak ada menjadi ada ketika berinteraksi. Gejala ini meliputi halusinasi, umumnya berupa halusinasi penglihatan dan pendengaran. Misalnya, penderita skizofrenia merasa mendengar bisikan-bisikan tertentu di telinganya.

Sedangkan gejala negatif adalah kebalikan dari gejala positif. Penderita skizofrenia memiliki pola pikir yang seharusnya ada menjadi hilang.

“Gejalanya berupa emosi yang datar, ketidakmampuan untuk berinisiatif dan mengikuti jalannya kegiatan, dan tidak punya ketertarikan dalam hidup,” terang Meri.

Sementara gejala afektif adalah gejala yang seringkali menyertai penyakit skizofrenia. Penderita kerap merasa tertekan, cemas berlebihan, kurang tidur, perasaan tidak berharga, dan selalu diliputi perasaan bersalah. Bahkan penderita juga sering berpikir mengenai kematian dan bunuh diri.

Gejala kognitif menunjukkan pola pikir yang tidak beraturan dan perilaku yang tidak masuk akal. Sedangkan pada gejala agresif penderita sering menunjukkan sikap bermusuhan serta gangguan dalam pengendalian impuls.


Dampak Skizofrenia

Apakah skizofrenia berbahaya? Ya. Gangguan ini berbahaya bagi penderita, keluarganya, dan lingkungan sosialnya.

“Bahaya kalau kita membiarkan psikosis ini berlarut-larut. Bahaya buat keluarga dan buat dia sendiri. Yang pasti, penderita psikosis tidak bisa aktif di dalam masyarakat. Harus cepat ditangani karena akan mengganggu lingkungan sosial. Psikosis dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa terkontrol dalam bentuk perilaku agresif,” terang Meri.

Skizofrenia mengakibatkan terganggunya kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, berinteraksi dengan orang lain dan berperan secara produktif di masyarakat. Itu pula mengapa ODS dianggap “terganggu” jiwanya.

“Banyak ODS yang akhirnya berhenti bekerja atau pun putus sekolah. Dan keluarga harus mengorbankan banyak waktu, tenaga, serta biaya untuk mengobati ODS,” jelas Meri.

Meri menyarankan penderita skizofrenia harus ditangani dengan cepat dan tepat untuk mengurangi kekambuhan, agar penderita skizofrenia tetap menjadi individu yang produktif.

“Skizofrenia sama saja dengan sakit pada umumnya. Kunci utama keberhasilan terapi adalah kepatuhan dan kedisiplinan ODS dalam menjalani pengobatan,” katanya.

Tindakan pengobatan bagi penderita skizofrenia bisa melalui beberapa terapi, yaitu farmakoterapi, psikoterapi, dukungan dan psikoedukasi pada keluarga. Farmakoterapi jelas melibatkan obat. Tujuannya adalah menyeimbangkan kembali zat kimia yang terganggu.

“ODS yang tidak patuh menjalankan pengobatan akan memiliki risiko kambuh lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang patuh pada pengobatan,” lanjutnya.

Sedangkan psikoterapi dan dukungan keluarga akan sangat membantu penderita  untuk mengembalikan fungsi agar lebih mandiri dan produktif. Dengan demikian, kualitas hidup bisa membaik.

“Kasih sayang dari keluarga akan membantu mempercepat pemulihan pasien serta mengurangi kekambuhan. Dengan kata lain, dukungan keluarga dalam mendampingi dan membantu pasien untuk mengoptimalkan keberhasilan terapi sangat berguna,” jelas Meri.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kekambuhan adalah dengan melakukan intervensi psikososial, antara lain, dengan edukasi pada penderita dan keluarganya mengenai sifat-sifat skizofrenia, mengurangi rasa bersalah pada penderita atas munculnya penyakit ini, dan mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional ODS.

“Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka kekambuhan dan kualitas hidup ODS,” jelas Meri.


source : http://lifestyle.okezone.com/read/2010/11/23/195/396105/waspadai-skizofrenia

Jumat, 26 November 2010

Cara Minimalkan Risiko Terkena Kanker Usus Besar

Membiasakan orang untuk mengonsumsi makanan sehat, tidak merokok, mengurangi alkohol dan memperbanyak olahraga dapat mencegah hampir seperempat dari 1,2 juta kasus kanker usus besar yang didiagnosis setiap tahun, demikian menurut para ilmuwan.

Para peneliti dari Denmark menyatakan bahwa beberapa rekomendasi mengenai aktivitas fisik, berat badan, merokok, konsumsi alkohol dan diet, dapat mengurangi risiko kanker usus sampai 23 persen.

"Penelitian kami menguakkan kiat-kiat kesehatan yang berguna bagi masyarakat yang bahkan berbeda banyak dari gaya hidup bisa saja berdampak besar pada risiko kanker kolorektal," kata Anne Tjonneland dari Institute of Cancer Epidemiology pada Danish Cancer Society, yang juga mengepalai penelitian itu seperti dilansir 
Reuters Health, Rabu (27/10).

Kanker kolorektal, sering dikaitkan dengan usus atau kanker usus besar, membunuh sekitar setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia.

Tjonneland dan koleganya mempelajari data pada 55.487 laki-laki dan perempuan yang berumur antara 50 dan 64 yang sebelumnya tidak pernah didiagnosis terkena kanker. Mereka diamati selama hampir 10 tahun.

Para responden mengisi kuesioner gaya hidup dan pola makan, sementara para peneliti membuat indeks gaya hidup sehat dengan menggunakan rekomendasi kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia, Dana Penelitian Kanker Dunia (WCRF) dan Nordic Nutrition Recommendations.

Kuisoner itu termasuk tidak merokok, beraktivitas fisik setidaknya 30 menit sehari, tidak meminum alkohol lebih dari tujuh gelas dalam seminggu untuk wanita dan 14 kali dalam seminggu untuk laki-laki, memiliki ukuran pinggang di bawah 88 cm untuk perempuan dan 102 cm untuk laki-laki, serta menjalani diet yang sehat.

Hasilnya yang dipublikasikan dalam 
British Medical Journal menunjukkan bahwa selama periode berikutnya, 678 orang didiagnosis menderita kanker usus.

Setelah menganalisa seberapa baik peserta menjaga sikap dalam lima tips gaya hidup, para peneliti menaksir bahwa apabila mereka semua mengikuti satu saja pedoman tambahan, maka 13 persen kasus kanker usus besar dapat dicegah.

Jika mereka semua mengikuti semua lima tips kesehatan itu, maka 23 persen kasus kanker ususa bisa dihindari.

Studi sebelumnya telah mengidentifikasi 14 variasi gen yang masing-masing menaikkan risiko mengembangnya kanker usus antara 1,5 dan 2 kali. Satu penelitian yang diterbitkan bulan lalu menemukan fakta bagaimana sebuah varian tunggal dalam kode genetik manusia dapat memicu penyakit itu.

Namun para ahli mengatakan diet yang baik dan gaya hidup yang sehat memiliki kemungkinan untuk memainkan peran yang jauh lebih besar dalam menekan kemungkinan terkena kanker usus.
Tjonneland menyimpulkan penelitian itu mempertegas orang untuk mengikuti kiat-kiat hidup yang direkomendasikan.



source :http://www.go4healthylife.com/articles/2771/1/Cara-Minimalkan-Risiko-Terkena-Kanker-Usus-Besar/Page1.html

TRIK MENAHAN LAPAR di MALAM HARI


Apakah Anda memiliki kebiasaan mengucah camilan di tengah malam? Sadarkah Anda bahwa aktivitas itu bisa mengacaukan program diet dan olahraga pelangsingan tubuh.
Kebiasaan ngemil tengah malam potensial memicu kenaikan berat badan. Ini karena metabolisme tubuh menurun ketika malam hari. Makanan yang masuk tubuh tidak terbakar menjadi energi, tetapi tersimpan menjadi lemak.
Untuk menahan hasrat ngemil di malam hari, coba ikuti lima trik berikut ini.
Kenyangkan perut saat siang hari
Penuhi hasrat makan Anda saat siang hari hingga kenyang. Pilih makanan yang sehat dan bergizi, seperti salad, kacang-kacangan dan makanan berkalori rendah. Makanlah sedikit tetapi sering, karena akan membuat kenyang lebih lama. Jangan takut makan malam, hanya, kurangi jumlah karbohidratnya.

Sikat gigi
Mungkin terdengar aneh, tetapi trik ini cukup berhasil. Biasanya Anda akan malas untuk makan lagi setelah sikat gigi.
Hindari godaan
Hindari melewati jalan, tempat minimarket langganan. Saat di rumah, hindari juga melihat atau membuka lemari tempat menyimpan makanan. Dengan tidak melihat makanan, Anda bisa menahan hasrat ngemil.
Bergosip
Alihkan perhatian Anda dengan menelepon teman atau chatting. Bicarakan gosip-gosip seru, dengan begitu fokus perhatian Anda tidak pada makanan. Ini cukup efektif menekan hasrat untuk mencari camilan.
Tidur
Hindari tidur larut malam, karena membutuhkan energi. Akibatnya, tubuh membutuhkan makanan. Tidur tepat waktu dan jangan terlalu larut sehingga Anda tidak sibuk mencari makanan di tengah malam. (pet)